News

THE 50 GREATEST INDONESIAN DRUMMERS

Di manakah tempat seorang pemain drum berada? jika pertanyaan ini dilontarkan dalam periode 1960-an, sangat mudah untuk menjawabnya. Tempat seorang pemain drum adalah di baris belakang baik secara fungsional mau fisik. Akan tetapi kini pertanyaan tersebut sudah lama tidak relevan lagi. Setidaknya sejak awal periode 1970-an peran seorang pemain drum telah mengalami revolusi mencengangkan. Mereka tidak lagi sekadar berfungsi sebagai penjaga beat, tetapi sudah menjadi bagian yang setara atau bahkan dominan. Munculnya Sussy Nander dari kelompok Dara Puspita menyadarkan kepada kita bahwa memang telah terjadi pergeseran atas peran seorang pemain drum. Orisinalitas Murry dari Koes Plus dalam pola permainan serta produktivitasnya dalam mencipta lagu, bahkan menyanyikannya sendiri, satu hal lain.

Keberhasilan Teddy Sujaya dalam mengorbitkan penyanyi solo Anggun C Sasmi, yang kini telah menjadi artis internasional juga sebuah kenyataan. Bimo Sulaksono, mantan pemain drum band punk Netral, adalah contoh lain lagi. Lihat pula fenomena seorang Fariz RM dari seorang pemain drum berubah menjadi mesin pencetak hits di musik Indonesia. Kesadaran, pemahaman dan melesatnya teknologi kini telah mendorong seorang pemain drum untuk berperan apa saja. Komposer, penata lagu, produser, penyanyi dan entah apa lagi.

Sebagai penghargaan atas peran mereka, maka Rolling Stone edisi bulan November ini sengaja menampilkan 50 Best Indonesian Drummers. Nama-nama yang terpilih terdiri dari berbagai genre dan kurun waktu berbeda, dan dipastikan telah melewati seleksi ketat serta perdebatan panjang.Tentu semua bersandar pada kriteria yang telah kami siapkan yang di antaranya meliputi aspek skill, performance, dan signature.  Masukan dari para pemain drum Indonesia dari ber-bagai lintasgenerasi kami percaya juga membantu dalam menyusun daftar 50 Greatest Indonesian Drummer di edisi ini. Sengaja kami tidak membuat peringkat. Inilah 50 pemain drum yang anggap terbaik mewakili berbagai kriteria yang kami pilih dan kami hadirkan menurut abjad.

–Tim Rolling Stone Indonesia

1 Katon Primadi

‘Presiden’ Indonesian Drummers

Setelah mencurahkan perhatian pada kultur tradisional tanpa jeda, apa lagi obsesi baru Sang Maestro?

Oleh @katonprimadi

 

Belakangan ini, kepada pemain drum yang ditemuinya, Katon sibuk membagi-bagikan kartu nama baru. Di situ tertulis jabatannya sebagai Ketua Umum Indonesians Drummers, sebuah komunitas profesi yang baru terbentuk pada sekitar Juni 2010. Konon ide dasarnya bermula dari keakraban di kalangan para pemain drum, muncullah wacana pendirian semacam payung bagi profesi tersebut. Dukungan positif segera bermunculan dan lelaki kelahiran  surabaya 21 juni 1997 ini secara aklamasi didaulat sebagai, ya, seperti tertulis di kartu nama tadi. Kepada Roling Stone secara panjang lebar ia membentangkan rencana embrio yayasan nirlaba ini, termasuk menjadikan Indonesian Drummers sebagai satu-satunya pintu masuk bagi para distri-butor alat musik yang berminat melakukan endorsement kepada para pemain drum.

Dengan reputasinya sebagai pemain drum jazz papan atas Indonesia, tak mengheran-kan jika Katon Primadi diminta menjadi komandan Indonesian Drummers. Meski terdengar sedikit utopis, ia bercerita tentang obsesinya mendirikan perkampungan para pemain drum. Tetapi bukankah sebuah prestasi besar seringkali berangkat dari mimpi yang besar pula ?
Info : https://www.facebook.com/KatonNightmare | https://twitter.com/Katonprimadi

 

 

2 Fikri Dhia Permana

Kisah Sebuah Pembuktian

Pemain drum perkasa yang berhasil menumbuhkan kesadaran baru bahwa untuk mencapai sukses nasional, juga internasional, tidak harus selalu berarti pindah ke Jakarta

Oleh @katonprimadi

 

Apa yang terjadi setiap JRX, pemain drum punk perkasa dari Superman Is Dead,  beraksi dari balik set drum? Pertama adalah panggung akan bergetar oleh kerasnya pukulan pada snare, floor, cymbal dan lainnya. Kedua adalah teriakan membahana dari penonton yang histeris oleh permainan laki-laki dengan tato di sekujur tubuh ini. De-ngan postur tinggi besar serta gerak tubuh atraktif, sosok JRX selalu nampak paling menonjol. Bersama pemain bas Eka Rock dan vokalis/gitaris Bobby Kool, Superman Is Dead (SID) menebar aura panas di mana pun melalui lagu-lagu punk besutan dari empat album termasuk Black Market Love (2006) dan Angels & The Outsider (2009).

Pola bermain yang cenderung agresif dari JRX telah mengantarkan SID ke berbagai perolehan prestasi. Pada 2007, mi-salnya, JRX berhasil menyelesaikan tur 16 kota di Australia. Dua tahun kemudian giliran enam kota di Amerika menjadi saksi kedahsyatannya. Indikasi lain adalah semakin bertambahnya koleksi penghargaan yang mereka terima dari berbagai ajang bergengsi.

Keberhasilan SID menyabet penghargaan terbanyak dalam Indonesian Cutting Edge Music Awards yang digelar di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Minggu 18 Agustus 2010 lalu, merupakan gebrakannya paling mutakhir dari SID. Masing-masing untuk kategori Favorite Punk/Hardcore Song, Favorite Artwork from Album dan Favorite Band  Group or Duo.

Berhubungan atau tidak, sukses ini nampaknya akan membuat JRX semakin “malas” meninggalkan Bali dengan segala keindahan kulturnya. Pasalnya, beberapa tahun silam pernah terbersit rencana untuk memindahkan manajemen SID ke Jakarta. Alasannya jelas, “Kami musisi Bali jauh dari sorotan media [massa],” ungkapnya.

Tim Outsider, manajemen SID, lantas dikirim untuk tinggal selama beberapa waktu di Jakarta. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menja-ring peluang. “Tapi ternyata nggak begitu berhasil. Akhirnya kami sepakat untuk tetap bermarkas di Bali,” tukas JRX. Apalagi sejak lama baik ia dan Bobby Kool serta Eka Rock sudah memiliki bisnis masing-masing yang akan memunculkan persoalan baru jika ditinggalkan begitu saja.

Kini rencana meninggalkan Bali sudah terkubur oleh berbagai rangkaian cerita sukses. JRX bersama SID-nya telah menjelma menjadi representasi scene punk rock Bali. Merekalah ikon musik post modern yang telah kenyang jumpalitan dalam upaya mendapat pengakuan. Sinisme pu-blik Bali terhadap eksistensi mereka pun sudah lama berlalu. JRX  pernah merasakan bagaimana pahitnya dicibir sebagian scene musik indie di Bali ketika pada 2005 mereka memutuskan teken kontrak dengan sebuah major label di Jakarta. Pro kontra yang tanpa disadari telah ikut menaikkan pamor SID.

“Ketika itu kami menghadapi semuanya dengan pembuktian bahwa tidak ada yang berubah pada SID hanya karena sign kontrak dengan major label,” ungkap JRX.

Toh, diakuinya jika kerjasama itu telah memberikan kemudahan dalam beberapa hal tertentu. Sebut saja pencarian sponsor atau hal-hal lain yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan proses kreatif. Dengan kata lain JRX ingin mengatakan tak ada yang salah ketika seorang artis atau  grup band bekerjasama dengan major label selama yang bersangkutan mampu melin-dungi konsep musikal masing-masing.

JRX telah menggarisbawahi pernyataannya dengan cerita sukses SID yang secara spirit justru berhasil melakukan sejumlah lompatan mencengangkan dalam karier.

 

3 Argian Putra

Rindu Bergabung Dalam Band

Mantan pemain drum the gembelz yang bertekad

bangkit dan menemukan kenyataan pahit

Oleh @katonprimadi

 

Suara snare yang sangat khas itu kembali terdengar dalam sebuah pergelaran final Indonesia Idol tahun 2009. Si empunya sound, Ronald Fistianto, tampil bersama Magenta Orchestra. Inilah penampilannya setelah sekian lama menghilang dari hiruk-pikuknya dunia panggung. Setelah mundur dari formasi GIGI dan mendirikan Dr PM yang secara komersial tidak terlalu berhasil, lelaki kelahiran Jakarta, 19 September 1975 ini lebih banyak tenggelam di studio rekaman meng-iringi rekaman berbagai penyanyi solo.

Sosok Ronald Fristianto memang terbilang unik. Berbeda dengan umumnya pemain drum lain yang selalu dapat dikenali melalui karakter pukulan, kehadiran Ro-nald hanya dapat dikenali melalui sound snare tadi.

Sound itu gue cari-cari sendiri, karena gue nggak mau memakai sound yang sudah diset oleh brand [produsen],” ungkap Ro-nald di tengah sesi pemotretan untuk sampul majalah ini. Keinginannya baru terwujud ketika GIGI mendapat kontrak rekam-an untuk album perdana, Dunia (1995). Dengan sebagian dana yang di-pinjamnya dari personel GIGI, Ronald membeli satu set drum seharga Rp 12 juta. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu tahun sebelum dirinya benar-benar me-nemukan sound yang diinginkan. Sekadar meng-ingatkan, album debut ini mencetak hit Janji yang liriknya ditulis oleh pemain bas Tho-mas Ramdhan.

Dengan menciptakan sound yang khas, Ronald telah berhasil membangun pencitraan dirinya secara cerdas. Ia sadar sepenuhnya bahwa musisi dengan pe-nguasaan teknik tinggi senantiasa akan lahir dari waktu ke waktu ke waktu, akan tetapi ciri khas sound ada kalanya sulit tersentuh waktu. Setidaknya, ia telah membuktikannya melalui proyek rekaman berbagai penyanyi solo. Permainannya amat mudah dikenali, termasuk untuk album come back Nicky Astria, Negeri Khayalan (1992) atau Anggun C. Sasmi berjudul …Lah!!! (1993).

Setelah grup bentukannya, Dr PM, bubar, Ronald kembali merindukan suasana band. Namun tiadanya mitra bermain yang cocok membuatnya kembali “gentayangan” dari satu studio rekaman ke studio rekaman lain. “Gue lebih mudah menghapal jadwal job daripada nama-nama idola, he-he-he!”

Pada suatu hari ketika sedang nongkrong di Musica’s Studio, ia memberanikan diri melamar sebagai pemain drum Magenta Orchestra kepada Andi Rianto, sambil berterus terang tentang kebutaannya dalam not balok. Namun rupanya gayung bersambut. Bos Magenta tersebut segera memasukkan Ronald Fristianto ke dalam jajaran pasukannya.

Toh, kenekadan Ronald Ronald Fristianto akhirnya “berbuah” pada saat pergelaran Indonesia Idol tadi. Seluruh jemarinya diam-diam berkeringat dingin menyaksikan para pemain begitu menguasai partitur, sementara dirinya hanya mengandalkan hapalan yang dipelajarinya lewat cakram compact disc kiriman Andi Rianto. Akibatnya ia terpaksa belajar habis-habisan. Kini ia telah mampu mengesampingkan CD se-bagai medium untuk menghapal materi lagu dan menggantinya dengan partitur seperti personel lain. Meski tidak terikat kontrak secara resmi, Ronald Fristianto merupakan pemain drum yang menempati prioritas pertama. Artinya, Andi Rianto akan memberikan kesempatan pertama kepadanya setiap akan memulai persiapan tampil. Jika Ronald berhalangan barulah dicarikan pengganti.

Ronald Fristianto memulai kehidupannya sebagai anak band melalui kelompok Chivas bersama gitaris Pay, vokalis Andi Liany, pemain keyboard Indra Q dan pemain bas Bongky. Adapun rekaman perdananya terjadi setelah Deddy Dorres meng-ajak ikut menggarap album penyanyi solo Nike Ardilla.

Sementara itu jadwal kegiatan sebagai additional drummer yang cukup padat tidak mampu membunuh impiannya untuk tampil kembali dalam formasi band utuh. “Gua sangat rindu ngeband,” ungkapnya dengan mimik serius.

Pada Juli silam keinginannya itu berhasil terwujud setelah bertemu dengan dua musisi muda, yaitu vokalis dan gitaris Kevin (21) dan pemain bas Ersha (26), mantan kelompok Yovie & Nuno. Perbedaan usia karier yang cukup mencolok sengaja dilakukannya agar ia tidak tertinggal oleh tren musik yang tengah berlangsung. “Dari merekalah gue bisa mengikuti perkembang-an musik sekarang,” katanya tentang formasi yang diberi nama My Band.

Akan tetapi ketika mendatangi  sejumlah label untuk menawarkan demo lagu band barunya, Ronald membentur kenyataan bahwa kepopuleran dirinya sebagai musisi yang pernah ikut membesarkan GIGI tak terlalu ampuh untuk mendapatkan kontrak rekaman. Namun pemahamannya atas keadaan industri musik yang secara bisnis tengah merosot segera membuatnya mengerti. Oleh karena itu Ronald tak ingin surut melangkah seperti halnya ia tak ingin mengubah sound drumnya yang khas itu.

 

 

4 Roy Fauzan

Dari Rock Ke Funk

Pernah menjadi session player terlaris dan menyumbang banyak hit yang abadi hingga kini

Oleh @katonprimadi

Jika ada drummer yang hobi-nya menyenangkan orang, pastilah namanya Yaya Moektio. Pembawaan yang sumri-ngah, ramai oleh senyum seperti ingin menggambarkan watak pukulannya yang kaya akan variasi – untuk tidak me-ngatakan boros. Keterlibatannya yang panjang sebagai pemain drum Cockpit – sebuah band copy cat Genesis –  menjadikannya terbiasa dengan aransemen rumit. Ia khatam bermain roffel di dalam ruang sekecil apa pun, sehingga tampil dengan siapa saja selalu berhasil menciptakan pesona sendiri tanpa harus mengorbankan permainan. Ialah seorang dari sedikit pemain drum senior yang masih eksis hingga sekarang.

Khusus dalam rekaman lagu God Bless berjudul “NATO” (2009) ia dituntut untuk lebih menyederhanakan pola permainan mengingat konsep musiknya yang tidak sama dengan Cockpit.

“Musik God Bless ndak membutuhkan permainan drum ramai karena basic kami adalah rock & roll,” ungkap pemain keyboard Abadi Soesman saat penggarapan album keenam tersebut. Beruntung untuk kepentingan di atas panggung personel lain dari band rock tertua Indonesia itu memberinya kebebasan penuh.

Selepas menamatkan sekolah di SMAN IX Bulungan, Jakarta Selatan, Yaya Moektio sempat mengenyam pendidikan musik pada Course Sound Design di Oklahoma University, Amerika Serikat.  Setelah itu masa remajanya lebih banyak dihabiskan di Bandung. Di sanalah antara lain ia bergabung dengan almarhum Deddy Stanzah melalui band Silvertrain (1977 – 1978) yang berlanjut hingga album rekaman. Hasta Nada adalah band berikutnya sebelum pada 1981 mendirikan Cockpit bersama almarhum vokalis Freddy Tamaela, gitaris Odink Nasution, pemain bas Harry Minggoes dan pemain keyboard Ronny Harahap. Meski berada di bawah bayang-bayang Genesis, Cockpit berusaha menemukan identitas dengan menggarap album pertama. Sayang, kematian Freddy Tamaela me-nganvaskan rencana tersebut. Materi yang terlanjur direkam akhirnya beredar terpisah-pisah sebagai single dalam berbagai album kompilasi.

Pertengahan 1980-an merupakan periode dimana kesibukannya sebagai session player berlangsung. Bersama Prambors, Yaya menghasilkan tiga album yang banyak menciptakan hit mulai dari “Sepercik Air” (Deddy Stanzah), “Kemarau” (Eben & Sa-rah), “Kehidupan” (Louise Hutauruk), “Masa Depan Di Tanganmu” (Deddy Stanzah) dan “Keagungan Tuhan” (Eddy Silitongga). Tidak terhitung pula proyek penyanyi solo – satu di antaranya Apanya Dong milik Euis Darliah yang meledak penjualannya dan memberi-nya bonus sebuah sedan Corolla DX. Yaya Moektio juga merambah irama funk sewaktu bergabung dengan Goldguys yang beranggotakan pemain bas Mates dan almarhum pemain saksofon Embong Rahardjo.

Barulah pada 1991 nama Yaya Moektio berkibar setelah Ian Antono merekrutnya untuk Gong 2000. Uniknya, pada saat dibentuk usia band ini telah ditetapkan hanya untuk sampai tahun 2000. Secara konseptual musik band ini tidak jauh berbeda dengan God Bless, apalagi Achmad Albar dan Donny Fattah ikut pula bergabung. Hanya saja musik rock di sini bertemu dengan irama pentatonik Bali. Maka dapat dibayangkan keriuhan yang ditimbulkan oleh roffel khas Yaya Moektio dengan baris-an musisi tradisional pimpinan Kompyang Raka. Gong 2000 menghasilkan tiga album rekaman, Bara Timur, Laskar dan Lidah Pe-taka. Setelah band ini dinonaktifkan, Yaya pun resmi menjadi pemain drum God Bless menggantikan Inang Noorsaid.

Untuk pemain drum berusia kepala lima, Yaya termasuk rajin memelihara stamina. Ia selalu menyempatkan diri untuk me-latih fingering pada setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu. “Meski kadang cuma satu jam tetapi saya anggap cukup,” ujarnya.

Lahir di Manado 30 April 1957, Yaya Moektio merupakan putra keempat dari lima bersaudara yang rata-rata senang bermain musik. Puteranya Rama Moektio terjun mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi pemain drum Ada Band. Salah seorang keponakannya, Ranggi Moekti, kini menjadi pemain bas band Metro. Yaya juga merupakan kakak ipar dari Tyo Nugros, mantan pemain drum Getah dan Dewa.

5 Eno Gitara

Spirit Eksplorasi

Inilah pemain drum trio punk Indonesia

paling masyhur yang tengah berlari mengejar

dua mimpinya yang lain

Oleh Denny MR

Ada sebuah ucapan sting yang senantiasa saya ingat ketika beberapa tahun silam mewawancarainya di Hotel Hilton Jakarta (kini Hotel Sultan) tentang definisi ‘musisi yang baik’. “Musisi yang baik adalah yang selalu berhasil melakukan pergerakan terus-menerus dalam kariernya,” begitu kata vokalis dan pembetos bass The Police ini. Saya cuma manggut-manggut saja saat itu dan perla-han-lahan melupakannya.

Belasan tahun kemudian kalimat tersebut seperti terngiang kembali saat memperhatikan sepak terjang Eno Gitara Ryanto yang akrab dipanggil Eno Netral. Di tengah kesibukannya sebagai penggebuk drum trio punk asal Jakarta tersebut, ia tengah memasuki persiapan akhir Royal Ego, band side project yang telah dirintisnya sejak delapan tahun lalu dan sebuah sekolah musik yang akan menggadang namanya sebagai daya tarik. Grafik aktivitas yang terus meningkat ini seperti menginformasikan kepada kita bahwa status pemain drum tidak cukup menampung potensi yang bersarang dalam tubuhnya.

Lahir di Jakarta pada 11 Oktober 1979, Eno merupakan putra kedua dari tiga bersaudara. Pada tahun 1998 ia hanyalah seorang personel Djakarta. Setahun kemudian datang sebuah tawaran dari pionir punk, Netral, untuk menggantikan posisi Bimo Sulaksono, yang hengkang karena ingin me-nemukan suasana baru. Sebagai pemain addtional, ia bergantian dengan Hengky (Kindern) dan Toni Traxx (Kaktus). Nasib cerah kemudian berpihak kepadanya, Eno terpilih untuk dijadikan personel tetap. Netral formasi  baru ini merilis album keempat, Paten (1999).

Dengan penampilan modis – rambut mohawk dan aksi panggung yang begitu enerjik, sosoknya merupakan suntikan darah baru kepada band yang memang telah memiliki massa lumayan banyak tersebut.  Pukulannya yang “rame” kadang melompat dari pakem, berhasil mencuri perhatian kendati tubuh setinggi 173 cm itu terkurung drum set. Meski berbeda dengan pendahulunya, kehadirannya membuat Netral tampil lebih segar. Ia mengaku mengido-lakan Richard Mutter (eks-Pas), Magi /rif, Bimbim Slank dan Arief Aziz Rotor. Kedahsyatan Richard Mutter dengan kelincah-an Magi nampak sedikit memba-yangi gaya panggungnya. Tapi Bimbim?

“Gue suka pukulannya, khas banget. Baru intro saja dia sudah bisa menghadirkan aura Slank,” kata pemilik distro Racer Kids yang bermarkas di bilangan Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini.

Tiga tahun kemudian, pada 2002, band Cokelat mengajaknya tur sebagai pemain additional karena pemain drum Ervin meng-ajukan cuti untuk menyelesaikan kuliah. Selama proses tur itulah berlangsung interaksi dengan gitaris Ernest yang berujung pada rencana mendirikan sebuah band. Tidak ada yang mengejutkan sewaktu dia beralasan. Sama dengan nama-nama lain yang melakukan side project. ”Ada keinginan memainkan jenis tertentu yang nggak mungkin gue lakukan pada Netral. Sama sekali bukan boring dengan Netral.”

Tahap kedua terjadi saat Cokelat ber-ulang tahun pada 2005. Eno datang dengan mengajak  pemain bas Saint Loco, Gilbert. Adapun Hendra mantan vokalis band New Market dan Joga bergabung pada 2007. Cukup panjang memang waktu yang diperlukan untuk mengibarkan band yang belakangan diberi nama Royal Ego tersebut. Kini, seluruh materi telah selesai dibuat. Dua buah video klip pun rampung sudah. Single pertama berjudul “Senandung” siap bertarung dengan barisan pendatang baru. Meski berupa side project, Eno menyiapkan peluncuran album perdananya cukup serius. Bersama perso-nel lain ia mendirikan Crown Horse Records sebagai payung band. Tim promosi kecil-kecilan direkrut dari kalangan teman-teman mereka. “Gue akan amati terlebih dulu hasil release single ‘Senandung’ sebe-lum memutuskan mengedarkan album fisik,” katanya berstrategi.

Sementara album pertama Royal Ego tengah dalam taraf mengintip peluang, Eno ogah berpangku tangan dan kini tengah mengejar mimpi lainnya, mendirikan sekolah musik khusus drum bersama antara lain Dodi Cupumanik. Merebaknya berbagai sekolah musik rupanya tak menyurutkan semangatnya dalam merebut kesempatan. Sebagai langkah pertama Eno telah selesai menyusun sebuah buku yang kelak akan menjadi kurikulum pelajaran. Lokasi sekolah musik yang diberi nama Eno Drum School itu berdampingan dengan Racer Kids. Apa yang membedakannya dengan sekolah musik lain?

“Sekolah musik lain umumnya mencetak lulusan sebagai pengajar atau session player. Sekolah gue mengambil arah yang berbeda karena lebih ke upaya penguasaan panggung.”

Kini alumnus Universitas Pancasila ini bak berkejaran dengan waktu mengingat rencana pembukaan Eno Drum School pada bulan November ini.

Dengan dua rencana yang bersamaan, saya tergelitik untuk bertanya: kejutan apa lagi setelah ini?

6 Andris

Abdul kandrisyang lahir di Bandung, 5 Juni 1976 ini kerap dipanggil Abah oleh para teman-teman metalnya di bilangan Ujungberung, Jawa Barat. Ialah pemain drum Burgerkill, band metal/hardcore yang cukup senior di Indonesia. Jarangnya profesi drummer di scene metal Ujungbe-rung di pertengahan ‘90-an membuat Andris menjadi ‘drummer sejuta umat’ de-ngan membantu berbagai band death metal macam Sonic Torment, Naked Truth, Sacriligious, Forgotten, hingga Disinfected. Menyebut pria ini multi-instrumentalis juga relevan karena ia sempat menjadi gitaris sesi live untuk band goth metal bandung Restless, dan juga menjadi pemain bas Burgerkill di album Dua Sisi yang sempat dirilis Sony Music Indonesia. Baru kemudian ia berpindah divisi menjadi pemain drum di album terakhir Burgerkill Beyond Coma and Despair (2006). Andris yang mengawali karier sebagai pemain bulutangkis ini mengaku berhenti bermimpi menjadi atlet setelah diperkenalkan dengan musik metal ketika SMA. Pola permainannya yang kencang dan cepat dipengaruhi berbagai drummer seperti Mike Smith dari Suffocation, Roy Mayorga hingga Tim Yeung dari band Divine Heresy. Simak permainan Andris di lagu mantap macam “Atur Aku” milik Puppen yang telah digubah, di mana ketukan groovy menjadi lebih cepat, brutal dan sarat dengan permainan double pedal yang berpresisi tinggi dan serempak dengan serang-an gitar dan bas. Urusan kekompakan dan tempo dalam metal, pria ini adalah pakarnya.

ricky siahaan

 

7 Aksan Sjuman

Sosok sri aksana sjumandjaja ataulebih dikenal dengan Aksan Sjuman mulai dikenal penggemar musik saat bergabung dengan Dewa19 lewat nickname Wong Aksan. Saat itu Aksan ikut mendukung album Pandawa Lima (1999). Permainan drumnya yang cenderung lebih lebar dan beragam terasa memperkaya tatanan musik Dewa19. Aksan tak lama menetap di sana. Ada yang bilang teknik drumming Aksan terlalu memihak ke jazz yang membuatnya tersempal dari Dewa19.

Sejak itulah alumnus sekolah music Folkwang  Hochschule Essen Jerman ini lebih banyak menyelusup dalam berbagai kegiatan musik jazz, di antaranya bergabung dalam Indra Lesmana Reborn. Aksan memang terlihat lebih pantas menggumuli musik jazz. Tapi ketika Melly dan Anto Hoed mengajaknya bergabung dengan band Potret menggantikan Arie Ayunir, toh Aksan mampu memperlihatkan pola drumming yang lebih poppish dan renyah.

Lelaki kelahiran 22 September 1970 ini bisa disebut sebagai seniman serba bisa. Selain te-rampil bermain musik, Aksan pun menguasai teater hingga balet. Aksan memang mewarisi bakat yang dimiliki kedua orang tuanya, sutradara film Sjumandjaja dan penari balet Farid Feisol. Selain menguasai drum, Aksan pun mampu bermain piano, gitar, saksofon dan biola. Kemampuannya sebagai seorang multi-instrumentalis inilah yang kemudian membawanya menjadi seorang penata musik film layar lebar, di antara-nya menggarap musik film “Laskar Pela-ngi,” ”King,” ”Garuda Di Dadaku,” ”Queen Bee” dan banyak lagi.

Aksan pun merilis album solo dengan atmosfer jazz modern bertajuk “Peaceful Journey” bersama pemain bas Peter Scherr, pianis Masako Hamamura, peniup saksofon Joe Rossenberg dan gitaris Eugene Pao. Aksan juga tergabung dalam Riza Trio Scapes, trio jazz modern yang didukung pianis Riza Arshad dan pemain bas Yance Manusama.

Drummer yang terinspirasi Jack Dejohnnette, Jim Keltner, Stewart Copeland dan Bob Moses ini seolah menyilangkan karakter pola drumming jazz dan rock dalam gaya permainan drumnya.

denny sakrie

 

8 Al

Yang membuat aminuddin al muqaddas atau Al terinspirasi untuk bermain drum bukanlah artis metal luar negeri, melainkan Fadil, sepupunya yang ia rasa mampu memainkan drum dengan fill-in yang klop dan mantap. Rasa ingin tahu ini yang kemudian membuat pria kelahiran Jakarta 28 Juli 1979 ini belajar drum, sempat sekolah drum di Farabi tahun 1999 hingga 2000 dan kini menjadi salah satu drummer rock terbaik Indonesia. Bersama Purgatory, Al berprogres dari mulai pola death metal tradisional di awal karier tahun 1994, merilis album klasik Di Ambang Kepunahan hingga kini di tahun 2000-an menjadi drummer yang banyak terpengaruh metal modern a la Slipknot. Perubahan itu juga lantaran Al merasa bosan sekaligus minder karena kurang sreg dan mampu dalam pola drumming death metal klasik seperti band-band seperjuang-an macam Vile dan juga Motordeath asal Bandung yang ultra ngebut. Dengan sosok yang tinggi besar, Al menghajar set drum dengan mantap dan agresif, namun di-namika serta tempo tetap terjaga dengan disiplin penuh. Pengalamannya bermain drum untuk Roxx dan juga di Dewa secara singkat menambah pengalam-annya menjadi seorang drummer rock yang patut diperhitungkan.

ricky siahaan

 

9 Andry Rudal

Ketika andry “rudal” teguh firmansyah menabuh drum bersama band legenda hardcore asal bandung bernama Puppen, Anda dijamin akan terkesima dengan mulut menganga. Pria kelahiran Bandung, 9 Juni 1977 ini mampu memainkan musik metal/hardcore nan cepat rapat plus power yang keras dan memekakkan, namun dengan gaya performa drummer hard rock yang stylish. Bayangkan Tommy Lee dari Motley Crue tiba-tiba direkrut oleh Sepultura, kira-kira seperti itu analogi permainan drum Andry. Hal ini membuatnya sebagai salah satu drummer terbaik dalam sejarah musik keras di Indonesia. Mengaku terpengaruh oleh Pete Sandoval dari band grindcore Terrorizer serta Charlie Benante dari Anthrax, Andry Rudal mampu sempurna memadukan groovepower serta speed pada lagu Puppen seperti “Hijau” yang terdapat di album self-titled yang dirilis secara independen tahun 2000. Ketika live, Andry bahkan mampu membawakan tembang lama Puppen macam “Atur Aku,” atau juga “Sistem” dengan visual permainan yang jauh lebih ekspresif dibanding Marcel Siahaan, drummer lama mereka yang pindah profesi menjadi penyanyi pop. Setelah Puppen bubar jalan tahun 2002, Andry pun bergabung dengan Jolly Jumper sebuah band beraliran emo rock dan saat ini sibuk menjalankan sebuah toko besi di bilangan Ciroyom, Bandung.

ricky siahaan

 

 

10 Andyan Gorust

Rasanya berdosa bila menyukai musik ekstrim metal lokal, tapi tak mengenal nama Andyan Gorust. Drummer bernama asli Andyan Nasary Suryadi dan lahir di Jakarta 8 Oktober 1981 ini merupakan mesin penjaga ketukan metal di belakang aksi brutal seperti Siksakubur dan kini Dead Squad. Dan bukan main-main, Andyan fasih merentetkan pukulan di belakang set drum double bass miliknya, penuh dengan teknik metal yang megamumpuni seperti hyperblasting, maupun double bass drumming yang demikian cepat. Dan pria ini melakukannya dengan santai, seolah mudah dan tak memaksa. Uniknya, pria yang kini sering mem-posting video pribadi tutorial drum untuk musik metal justru jarang mendengarkan musik metal. Ia lebih banyak mendengarkan musik dari pemain drum solois macam Mike Portnoy atau Virgil Donatti. Tapi metal tetaplah jalan hidupnya, Andyan mengaku bahwa kebebasan adalah hal yang utama di pola drumming metal ekstrim. Segala jenis gaya permainan dari genre apapun sah-sah saja bila diaplikasikan di musik metal. Salahkan kegiatan terlalu banyak nongkrong di studio musik 666 di bilangan Cijantung, Jakarta, tempat berlatihnya band-band metal seperti Tengkorak, Kill I Can, maupun Malignant, yang akhirnya membuatnya terobsesi dan tekun latihan tiga kali seminggu hingga membuat sekolah cukup terbengkalai. Namun hasilnya tak mengecewakan. Lima album dalam rentang sembilan tahun bersama Siksakubur, serta satu album bersama Dead Squad menjadi hal yang dibanggakannya. Semua penuh dengan teknik drumming metal yang mampu menaruh dirinya di posisi terbaik peta metal ekstrim nasional.

ricky siahaan

 

 

11 Ari Tiga Angka Enam

Rasanya berdosa bila menyukai musik ekstrim metal lokal, tapi tak mengenal nama Ari Tiga Angka Enam. Drummer bernama asli Andyan Nasary Suryadi dan lahir di Jakarta 8 Oktober 1981 ini merupakan mesin penjaga ketukan metal di belakang aksi brutal seperti Siksakubur dan kini Dead Squad. Dan bukan main-main, Andyan fasih merentetkan pukulan di belakang set drum double bass miliknya, penuh dengan teknik metal yang megamumpuni seperti hyperblasting, maupun double bass drumming yang demikian cepat. Dan pria ini melakukannya dengan santai, seolah mudah dan tak memaksa. Uniknya, pria yang kini sering mem-posting video pribadi tutorial drum untuk musik metal justru jarang mendengarkan musik metal. Ia lebih banyak mendengarkan musik dari pemain drum solois macam Mike Portnoy atau Virgil Donatti. Tapi metal tetaplah jalan hidupnya, Andyan mengaku bahwa kebebasan adalah hal yang utama di pola drumming metal ekstrim. Segala jenis gaya permainan dari genre apapun sah-sah saja bila diaplikasikan di musik metal. Salahkan kegiatan terlalu banyak nongkrong di studio musik 666 di bilangan Cijantung, Jakarta, tempat berlatihnya band-band metal seperti Tengkorak, Kill I Can, maupun Malignant, yang akhirnya membuatnya terobsesi dan tekun latihan tiga kali seminggu hingga membuat sekolah cukup terbengkalai. Namun hasilnya tak mengecewakan. Lima album dalam rentang sembilan tahun bersama Siksakubur, serta satu album bersama Dead Squad menjadi hal yang dibanggakannya. Semua penuh dengan teknik drumming metal yang mampu menaruh dirinya di posisi terbaik peta metal ekstrim nasional. news by @katonprimadi

 

 

12 arry

Jauh sebelum roxx  berdiri pada 1 april 1987, sosok Arry Yanuar sudah kerap diingat dari kedahsyatan permainan double kick-nya yang begitu stabil dan, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, nyaris se-perti mesin. Bagian akhir lagu “Penguasa” dari album pertama Roxx, misalnya, hanya mampu memperlihatkan sebagian kecil saja bagaimana sebagai pemain drum heavy metal Arry begitu menginspirasi banyak drummer generasi kini.

Dirilis pada 1992 melalui PT Suara Sentral Sejati, album Roxx kemudian ber-edar secara internasional atas permintaan PolyGram International. Meski tidak ada catatan resmi, konon inilah album grup musik Indonesia pertama yang berhasil menembus pasar luar.

Sayang, karier Arry Yanuar tak berumur lama. Ajal menjemputnya setelah Roxx melepas album kedua, Nol.  Beberapa saat sebelum kematiannya, Arry tengah mempertimbangkan Bagoes (Netral) dan Trisonizze (Pas) untuk membuat band jamming.

denny mr

 

13 bakar Bufthaim

Di atas panggung, gerakan tubuhnya yang efektif mengingatkan kita pada gaya Dennis Chamber. Tapi pria kribo kelahiran Probolinggo 25 November 1967 bukanlah drummer ber-genre jazz. Bakar Bufthaim tulen pemain drum metal. Ihwal menghajar drum, tak seorangpun yang meragukan pukulannya yang keras dan stabil. Sejak tahun 1991, ayah dua putra ini merupakan personel Rotor yang mudah dikenali setelah Irvan Sembi-ring. Formasi ini antara lain melahirkan album Behind The 8 Ball, Elevem Keys dan New Blood. Tahun 1998, ketika Rotor mulai non aktif, Bakar menyebrang ke Suckerhead dan ikut menggarap album Paranatural, Hypertensi dan 10th Agresi.

Di tengah keterlibatannya dengan Suckerhead inilah Bakar banyak membantu proyek musisi lain, baik di panggung mau pun studio rekaman. Dewa dan Edane adalah dua nama besar yang pernah “merasakan” gebukannya. Bakar juga membantu album milik Zi Factor (Kill Paradigm) dan Dreamers (Bait Suci).

Aktivitasnya sebagai pemain drum additional ini nampaknya merupakan kiat ketika aktivitas Suckerhead menurun. Bukan cuma musisi rock seperti Ucok & His Gang, Nicky Astria, Andy Liany, Flowers, Saltis, Hari Moekti mau pun Mel Shandy yang membuat dirinya sibuk. Tetapi juga musisi pop semisal Franky Sahilatua, Atiek CB atau Nike Ardila.

denny mr

 

14 Bemby Gusti

Percayakah anda bahwa bemby gusti pemain drum kelompok Sore hanya mempu-nyai snare drum? “Ya, betul. Saya hanya memiliki sebuah snare drum. Tidak punya set drum. Saya tidak pernah rewel jika manggung. Diberi drum butut pun saya rela. Bagi saya yang penting adalah kualitas permainan,” demikian kilah Bemby sambil tertawa lebar.

Mulai tertarik drum pada saat duduk di bangku SD, ia didaftarkan oleh ibunya kursus drum di Yamaha Musik. ”Yang saya ingat, saya dicekoki permainan drum Neil Peart, drummer grup Rush oleh guru drum saya Samsul, yang juga seorang drummer rock,” kisah Bemby Gusti.

Selain Neil Peart, Bemby pun kagum dengan pola drumming Ian Paice (Deep Purple) dan Lars Ulrich (Metallica). ”Selain menguasai teknik secara paripurna, mereka pun energik dan menampilkan showmanship yang membyat penonton ikut bergairah,” tutur Bemby yang kerap berdiri jika tengah menggebuk drum.

Bemby sempat membentuk band Skywalker bersama Aghi Narottama. ”Sempat rekaman tapi batal dirilis,” ungkap Bemby yang juga menulis komposisi musik. Bersama Aghi Narottama juga, Bemby ikut bergabung dengan kelompok Lain bersama Zeke Khaseli dan Iman Fattah. Band ini sempat merekam dan merilis album di Seattle, Amerika Serikat.

Drummer bertubuh subur ini lalu bergabung dalam kelompok Sore hingga kini.Pola permaianan drum Bemby terkadang sukar ditebak, bahkan terkadang susah pula menebak drummer mana yang ba-nyak mempengaruhi karakter permainannya.Belakangan ini Bemby lebih ba-nyak membuat music score film layar lebar bersama Aghi Narottama dan Ramondo Gascaro, pemain keyboard Sore.Terakhir, Bemby juga dilibatkan sebagai penata musik drama musikal besutan Joko Anwar, Onrop.

denny sakrie

 

15 Beni Adhiantoro

Bawono “beni” adhiantoro adalah penyuplai detak jantung yang membuat The Upstairs mampu menggoyangkan lantai dansa. Latar belakangnya sebagai drummer metal bersama grup Straightout membe-rinya teknik yang penuh kekuatan, presisi dan konsistensi yang membuat The Upstairs tak sekadar grup yang kegandrungan musik new wave ’80-an. Kestabilan pukulannya pada lagu-lagu seperti “Matraman” dan “Terekam (Tak Pernah Mati)” membuat kita berpikir semua beat itu adalah hasil program drum machine yang canggih, tapi isiannya yang liar pada “Kunobatkan Jadi Fantasi” pastilah hasil karya manusia. “Beni sa-ngat kreatif dalam meng-isi drum The Upstairs, bagiannya benar-benar part dari lagu-lagu mereka. Influence gabung-an dance dan metal dikombinasi dengan sempurna sehingga jadi ciri khasnya,” kata Fajar Arifan dari Alexa, yang beberapa kali bermain drum untuk The Upstairs ketika Beni berhalangan. “Butuh teknik yang lumayan untuk memainkan lagu-lagu mereka. Lumayan penyesuaian karena beda banget mainnya sama gue. Bahkan gue mengakui semenjak main di The Upstairs, beberapa style Beni terbawa sama gue dan terdengar di album pertama Alexa.”

hasief ardiasyah

 

16 Benny Mustafa

Di tahun 1963 band eka sapta menggelarkonser di Istora Senayan, Jakarta. Ada atraksi sensasional yang membuat penonton terke-sima: pertarungan empat drummer. Mereka adalah Eddy Tulis, Fuad Hasan, Benny Mustafa dan putra tertua presiden RI Soekarno, Guntur Soekarno

 

 

 

Comments Closed

Comments are closed. You will not be able to post a comment in this post.